Sate Sapi Lapangan Karang
Lapangan Karang, Jl. Nyi Pembayun, Kotagede, Yogyakarta
Buka: 17.00-22.30
kotagede!
ada salah satu makanan yang harus dicoba jika ada di kotagede. yaitu, sate sapi. letaknya ada di lapangan karang, kotagede. hanya saja, nggak ada pilihan menu makanan selain sate sapi. jadi ya kalau pesan ya hanya sate sapi saja. tinggal sebutkan berapa porsi yang mau dipesan. dengan sigap, beberapa pekerja dengan berseragam merah tua akan meracikkan sate sapi bersama dengan pasangannya, yaitu jangan dodol.
sapi ini memang berbeda dengan sate kebanyakan, baik dalam rasa maupun penampilannya. seporsi isinya sepuluh tusuk sate sapi, yang dipotong sebesar ruas jari orang dewasa, disuguhkan dengan bumbu kacang. dulunya Karyo Semito, pendiri Sate Karang, membuat dengan bumbu kocor, semacam bumbu cair yang digunakan untuk bumbu tahu guling. Bumbu ini terdiri dari cabe, daun salam, bawang merah, dan gula jawa. tapi dalam perjalanannya, bumbu kocor ini tak terlalu dikenal orang. Ia pun mengadaptasinya dengan bumbu kacang, seperti bumbu sate ayam.
saat digigit, daging sapi tak terasa alot. yang ada adalah empuk dengan bumbu yang meresap hingga ke bagian dalam. padahal, nyaris nggak ada yang istimewa dari bumbu yang digunakan untuk menciptakan cita rasa sate sapi ini. yaitu, ketumbar, bawang merah, garam, daun jeruk, dan gula merah. sedangkan bumbu kacangnya terdiri dari kacang, terasi, dan bawang putih. toh, tetap saja: rasanya naknan alias enak tenan.
daging sapinya cenderung kenyal, dengan warna cokelat kehitaman. topping bumbu kacangnya tebal dengan butiran kacang yang agak kasar. bumbu kacang yang masih menyisakan butiran-butiran ini menimbulkan sensasi tersendiri di lidah. tanpa dimakan dengan lontong pun, tekstur sate sapi ini gurih, sedikit manis, dan empuk.
sate ini bakal datang dengan –selalu pas– 15 iris lontong yang diguyuri jangan dodol atau sayur untuk jualan (bahasa Jawa: jangan = sayur, dodol = jualan). jangan dodol ini isinya potongan tempe yang diiris kecil-kecil, ayam, dan daging sapi. rasanya? gurih! jadi, setiap menyendok satu iris lontong dan guyuran jangan dodol, sebaiknya menggigit satu tusuk sate sapi. Rasa manis-gurih yang lahir dari sate sapi akan menempel seimbang di rongga mulut bersama dengan kuah jangan dodol yang segar dan tidak bikin eneg.
asal tahu saja, bisnis keluarga ini sudah dimulai Karyo sejak 1934. dulunya, lelaki tua ini mengusung pikulan sate sapi di kawasan Kotagede dan sekitarnya. sementara itu, sang anaknya -Prapto Hartono- menyunggi jangan dodol dan berjalan beriringan dengan Karyo. dagangannya tak pernah berubah, yaitu sate sapi dan jangan dodol. disebut jangan dodol lantaran Karyo mengolah sayur ini secara “sembarangan”, tak diambil dari buku resep mana pun, dan sayur ini khusus diolah untuk dijual. sekarang yang meneruskan adalah anaknya prapto hartono, yaitu Pipit Dwi Prasetyo.